Nothing Last Forever....

Hidup itu selalu berubah-ubah mengikuti perubahan waktu dan zaman. Biarkan diri kita mengikuti perubahan dengan tetap menjadi jati diri kita sendiri. Jangan kita terlalu dan berlebihan dalam menyikapi segala sesuatu, supaya kita tidak terpaksa dan kecewa, dan dipermainkan oleh masalah yang sedang kita hadapi, serta nyaman menjalani hidup di dunia ini. Jangan membendung arus yang perubahan yang baik, tetap ikuti dengan slow saja, tetapi berkelitlah dari arus yang kotor. Biarkan air mengalir ketempat tujuannya, yang penting adalah bagaimana disetiap perubahan kita menjadi orang yang tetap berpijak dijalan Allah dan memberi manfaat kepada lingkungan kita.

Cintailan sesuatu sekedarnya saja, sebab boleh jadi pada suatu nanti apa yang kamu cintai akan menjadi sesuatu yang paling kamu benci. Bencilah sesuatu atau musuhmu sekedarnya saja, boleh jadi apa yang kamu benci pada suatu hari nanti akan berubah menjadi sesuatu yang paling kamu cintai. Hidup sedang-sedang saja dalam masalah dunia akan menghantarkan seseorang pada ketenangan hidup. Sedangkan hidup dengan penuh ambisi dan berlebihan akan menghantarkan dirinya masuk pada perbudakan dan huru hara jiwa.

Kehilangan, memang menyakitkan. Dan semua makhluk akan merasakannya. Apa pun itu. Benda, rasa, bahkan keluarga. Semua yang dimiliki.

Tak ada yang tau mengapa semua itu terjadi. Hanya Allah swt yang tau mengapa. Yang harus kita tau hanyalah mengapa Allah menciptakan rasa kehilangan itu. Sesuatu yang tidak abadi. Hanya 1 alasan. Allah ingin mengajarkan kepada hamba-Nya tentang rasa bersyukur, tanggung jawab dalam menjaga titipan-Nya dan ketidakberlebihan terhadap sesuatu.

Jika kita pernah memiliki sesuatu, kita akan mempunyai kenangan akan hal yang kita miliki itu. Itu lah yang harus kita syukuri. Kenangan bersama hal tersebut. Dan juga kita harus melihat hikmah yang terdapat saat kita memiliki hal tersebut. Kemudian, kita akan bisa bersyukur karena kita telah diberi kesempatan dan kepercayaan untuk memiliki hal tersebut walau hanya sementara.

Kedua, kita diajarkan bertanggung jawab tterhadap apa yang dititipkan kepada kita. Ya, semua yang kita miliki itu hanya titipan. Semua akan kembali kepada-Nya, Allah, pemilik yang sesungguhnya. Di sini, Allah akan bisa melihat apakah kita layak untuk dititipi sesuatu yang lebih besar? Contoh gampang dalam realita, misalnya kita dititipi suatu barang oleh orang lain, jika kita bisa menjaga barang teersebut dengan baik, tentu orang yang menitipkannya akan semakin percaya kepada kita dan selanjutkan mungkin mau menitipkan barang yang mungkin lebih penting lagi. Namun, jika kita tak bisa menjaganya, tentu ornag itu tidak akan mau menitipka barang lagi, bukan? Nah, begitu juga dengan titipan dari Allah. Kita bisa dinaikkan derajat kepercayaan oleh Allah jika kita tidak lalai dalam menjaga titipan-Nya.

Ketiga, dengan sesuatu yang tidak abadi, kita diajarkan untuk tidak selalu bersikap berlebihan. Terutama dalam mencintai sesuatu, baik benda mau pun sesama. Jika kita berlebihan dalam mencintai sesuatu, tentu kita akan merasa hancur saat kehilangan dan kita akan menjadi orang yang tidak bersyukur.

Jadi, jangan lah menganggap semuanya milik kita dan hanya milik kita. Tidak ada yang benar-benar milik kita. Semuanya hanya titipan dan semua itu tidak akan bertahan pada kita selamanya. Karena semua akan kembali pada pemilik yang sebenarnya yaitu Allah swt. Apa yang kita miliki, kita akan kehilangan itu suatu saat nanti. Sebaik apa pun kita menjaga dan mencintai sesuatu, kita pasti akan merasakan kehilangan terhadap sesuatu tersebut. Tak ada yang abadi di dunia ini. Apapun yang kita miliki, itu takkan kekal. Kita pasti akan kehilangannya. Tinggal menunggu saatnya saja.

Yang harus kita lakukan hanyalah mensyukuri semua yang ada. Tak perlu memaksakan apa yang jadi milik kita. Alirkan saja semuanya, karena kita takkan berdiam di satu titik yang sama. Kehidupan itu dimanis, takkan pernah kehidupan berhenti berdetak hingga saatnya nanti kehidupan berakhir, karena kehidupan juga tidak abadi.

“Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang

Tak ada yang abadi

Tak ‘kan selamanya
tanganku mendekapmu
Tak ‘kan selamanya
Raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti…“

(Peterpan – Tak Ada yang Abadi)


inspired by: ChYan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar